Cerita Inspiratif : Rinduku Pada Tanah Air

3 Dec 2015

Cerita Inspiratif : Rinduku Pada Tanah Air

Seorang wanita duduk di beranda rumahnya yang asri. Rumah itu tidak terlalu besar, tetapi tampak tertata dengan rapi. Di pangkuan wanita itu terdapat sebuah album foto yang usang. Ia membuka album foto itu. Matanya menerawang karena mengingat sebuah cerita inspiratif yang tak bosan ia ceritakan pada anak dan cucunya.

Seoul, Korea Selatan, 2000

Aku dan suamiku merantau ke kota ini sejak 5 tahun silam. Kami memberanikan diri dengan tekad akan meraih sukses di negeri gingseng. Suamiku bekerja sebagai penjual bakmi goreng kali lima di distrik Jung, wilayah terkecil di Seoul. Walaupun luas distrik Jung tidak terlalu besar, wilayah ini cukup ramai karena berada di jantung kota Seoul.

Dagangan suamiku cukup laris. Hampir setiap hari bakmi goreng kami ludes dibeli oleh pelanggan. Akan tetapi, kami tidak pernah bisa menabung. Karena biaya hidup di sini lumayan besar, maka kami hanya sanggup mengirim uang untuk Hilda, putriku yang berusia 15 tahun. Hilda tinggal di Pontianak bersama kakek dan neneknya. Pendidikan Hilda adalah alasan mengapa kami memutuskan untuk merantau ke Korea.

Sudah 5 tahun bekerja di negeri orang, rasa rinduku dan suami pada tanah air tidak lagi terbendung. Akan tetapi, kami tidak punya biaya untuk pulang ke tanah air. Suatu malam usai berjualan, sambil melepas penat kami duduk-duduk sebentar untuk menikmati teh hangat.

“Aku kangen Indonesia, Ris,” kata suamiku membuka percakapan. “Sama, Pak. Aku juga ingin pulang. Sudah 5 tahun kita tidak bertemu Hilda,” sambungku. Suamiku menyeruput teh hangatnya, kemudian berkata, “Teh di sini kok rasanya berbeda dengan yang di Indonesia ya, Ris? Menurutku lebih enak teh asli Indonesia,” Aku pun mengiyakan. Rasa teh di Korea memang berbeda dengan teh di Indonesia. Entah perasaanku saja atau tidak, rasa dan aroma teh asli Indonesia memang lebih nikmat.

Tiba-tiba aku memiliki ide, “Pak, selama ini kita kan hanya berjualan bakmi. Bagaimana kalau kita juga berjualan teh asli Indonesia?” Suamiku menoleh dan matanya sedikit berbinar, “Tak ada salahnya dicoba. Tapi bagaimana kita bisa mendapatkan teh asli Indonesia? Di sini harga jualnya tinggi, Ris.” Kemudian, aku mengusulkan untuk menitipkan teh yang dibawa dari Indonesia ke Joseph, mahasiswa asli Indonesia yang kuliah di sini. Joseph adalah tetangga di kontrakan kami.

Bagai gayung yang bersambut, Joseph mengiyakan permintaan kami. Ketika ia pulang ke Indonesia, ia kembali ke Korea dengan membawa beberapa pak teh celup asli Indonesia. Tak perlu menunggu lama, kami langsung menjual teh dari siang sampai malam hari.

Siangnya, kami menjajakan teh di pusat keramaian kota. Malamnya, kami membuka kios teh kecil di samping gerobak bakmi kami. Seminggu berjualan teh hasilnya tidak terlalu memuaskan. Sampai sebulan kemudian, seorang pegawai dari salah satu gedung perkantoran di sana meminta kami menyediakan 1.000 gelas teh untuk seminar di kantornya.

Lambat laun kami menabung hingga akhirnya terkumpul biaya untuk pulang ke tanah air. Inilah yang dinamakan hikmah di balik cobaan.

Jakarta, Indonesia, 2015

Kini, sudah 15 tahun berlalu sejak aku dan suamiku berhasil pulang ke tanah air. Suamiku mengajakku untuk pindah ke ibu kota. Saat ini, suamiku menjadi distributor tetap penyuplai teh asli Indonesia ke beberapa kota di Korea Selatan. Kondisi ekonomi kami pun berubah drastis.

Cerita inspiratif ini semoga dapat memberikan harapan di kala Anda sedang putus asa. Apakah kini Anda tengah menghadapi masalah yang pelik? Cobalah memahami cerita inspiratif yang kubagikan ini. Percayalah, roda kehidupan pasti terus berputar. Aku yang dahulu hanya perantau di negeri gingseng, kini aku sanggup mengajak anak dan cucuku datang ke negeri tersebut sebagai turis.