Cerita Motivasi di Hari Pernikahan

8 Jan 2016

Cerita Motivasi di Hari Pernikahan

Ada satu cerita motivasi yang ingin kubagikan kepada pembaca sekalian. Dan, kisah ini terjadi tepat di hari terindah di dalam hidupku, yaitu di hari pernikahanku. Namun, awalnya memang tidak mudah.

Stroke. Itulah penyakit yang sedang diderita oleh ayahku. Sejak tahun 2012 penyakit tersebut membuat ayahku yang gagah, kini menjadi lumpuh dan tidak bisa berjalan tanpa alat bantu. Segala kebutuhannya bergantung pada orang lain. Kondisi inilah yang membuat aku takut untuk menjalin sebuah hubungan dengan pria. Aku takut pria tersebut tidak bisa menerima kondisi ayahku. Sampai akhirnya Theo datang dan meyakinkanku bahwa ia siap menerima aku dan keluarga apa adanya.

Setahun lalu, Theo melamarku secara romantis di sebuah restoran. Aku tidak perlu berpikir dua kali untuk menerima lamaran Theo, pria hebat yang selama ini selalu memberikan aku support dan selalu ada untukku.

10 bulan jelang pernikahan, aku dan Theo sangat repot mengurusi acara pernikahan kami di Bali. Meskipun kami menggunakan wedding organizer, aku dan Theo tetap ingin terlibat langsung untuk menyiapkan momen spesial ini. Setiap aku mengunjungi ayahku, aku selalu berkata, ”Ayah harus segera sembuh. Aku ingin ayah yang menggandengku saat menuju altar pernikahan”. Ayahku selalu memalingkan wajahnya setiap aku berbicara seperti itu. Ibuku juga selalu memberi ayah semangat agar dapat kembali berjalan dan mendampingiku ke altar pernikahan.

Siang itu, aku sedang duduk di belakang meja kantor sambil menikmati es teh manis dan memeriksa daftar tamu undangan. Ibuku meneleponku, “Johanna, ayahmu marah-marah. Ia bilang tidak mau ikut ke Bali. Bagaimana ini?” Aku tersentak kaget, bisa-bisanya ayahku tidak mau hadir pernikahan putri tunggalnya sendiri. “Nanti aku mampir ke rumah, Bu. Aku yang bujuk ayah”

Sorenya, aku datang ke rumah orang tuaku dan membawakan makanan kesukaan ayah. Aku makan malam bersama orang tuaku. Ketika aku membujuk ayah, ia malah marah-marah dan berkata, “Aku tidak mau datang!” Emosiku langsung tersulut ketika mendengar kata-kata ayahku, aku reflek berkata, “Ya sudah terserah ayah! Apa keinginanku terlalu susah untuk dipenuhi? Aku tidak lagi menuntut ayah bisa mendampingiku ke altar! Aku hanya ingin ayah hadir di hari pernikahanku” Setelah meluapkan perasaanku, aku keluar meninggalkan rumah orang tuaku. Perasaanku begitu hancur dan sedih.

Hari ini adalah hari pernikahanku. Orang-orang bilang aku sangat cantik dalam balutan gaun pengantin putih ini. Aku tersenyum puas menatap bayanganku di kaca. Sampai seorang wedding organizer mengetuk pintu kamar hotel dan menyuruhku untuk siap menuju kapel tempat pemberkatan nikahku dan Theo.

Aku tahu ayahku tidak akan hadir. Hanya ibuku yang hadir dan sudah tiba di sini dari beberapa hari yang lalu. Ayahku masih di Jakarta bersama seorang perawat. Kuputuskan untuk tidak menangis karena ini hari bahagiaku. Aku sudah meminta adik dari ayahku, Paman Wijaya, untuk mendampingiku ke altar.

Saat aku melangkah di kapel, aku bisa melihat Theo berdiri di dekat altar sambil membawa buket bunga. Tapi, di mana pamanku? Mengapa dia belum siap di dekat pintu? Aku mencari ke seluruh penjuru kapel dan tidak menemukan pamanku. Aku mulai panik. Bersamaan dengan itu sebuah tangan tua menyentuh tanganku dan menggandengku. Betapa terkejutnya aku, ayahku berada di atas kursi roda yang didorong oleh perawat. Ia berkata, “Jangan biarkan Theo menunggumu, anakku. Kau akan lama sampai di sana jika aku berjalan dengan tongkat, aku akan mengantarkanmu dengan cepat menggunakan kursi ini”. Aku terpaku sesaat, air mataku tak terbendung lagi. Aku tak tahu kapan dan bagaimana ayahku bisa sampai di sini, yang ku tahu ini hari yang paling membahagiakan seumur hidupku.

Selama ini ayah selalu menolak untuk hadir di pernikahanku karena merasa minder berada di kursi roda. Mengantarkan anaknya menuju altar merupakan harapannya sejak lama, namun penyakitnya membuatnya tidak bisa melakukannya. Tapi kini, ia melawan rasa mindernya tersebut untuk membahagiakanku. Kisahku ini telah menjadi cerita motivasi bagiku dan selalu jadi pengingat akan keluarga sebagai hal terpenting di hidupku. Apakah kalian juga sedang memiliki harapan yang mungkin mustahil? Tetap berdoa dan percayalah karena mukjizat bisa datang kapan saja dengan cara yang tak terduga.