Demi Senyum Keluarga di Hari Lebaran, Kurela Banting Tulang

13 Jan 2016

Demi Senyum Keluarga di Hari Lebaran, Kurela Banting Tulang

Syukur tak henti kupanjatkan kepada-Nya karena telah memberiku pekerjaan di bulan Ramadhan ini. Setelah hampir satu bulan menganggur karena jadi korban PHK di pabrik, aku bersyukur telah mendapatkan pekerjaan kembali menjadi satpam di kantor jasa ekspedisi, meski harus memulai semuanya kembali dari nol. Saat masih di pabrik dulu, aku sudah menjabat sebagai karyawan senior yang gajinya juga lumayan. Tapi, semua sudah terjadi. Di kantor yang baru ini, semua karyawannya sangat baik. Meski aku orang baru, mereka tetap bersikap sopan dan hangat. Beruntung rasanya aku bisa bekerja di sini sehingga Ramadhan dan Lebaran nanti, akan tetap ada rezeki untuk keluarga.

Aku punya keluarga bahagia dengan dua orang anak. Yang pertama sudah kelas 1 SD dan adiknya masih digendong ibunya. Kalau sudah masuk bulan Ramadhan, biasanya anak-anak akan minta baju baru. Si kakak pun dengan lugunya bilang “Yah, Tasya udah beli baju baru dua, loh. Kakak juga mau, ya!” Sebuah permintaan yang hanya bisa kujawab dengan senyuman dan kalimat “Nanti ya, kak”.

Aku dan istri tentu bisa menahan keinginan serupa, namun kasihan jika si kakak tak bisa memiliki baju baru. Di sinilah masalah muncul. Karena statusku masih karyawan baru, aku pun baru dapat gaji beberapa hari sebelum Lebaran, dan itu pun tanpa THR. Sedangkan tabungan kami hanya cukup untuk biaya sehari-hari. Aku pun putar otak agar bisa membelikan paling tidak satu baju baru untuk anak-anak.

Dan, Tuhan memang Maha Baik. Esoknya, saat aku sedang berjaga di pos, tiba-tiba supir pak bos menghampiri. Singkat kata, ternyata beliau mencari tukang untuk mengecat rumahnya. Dan, dengan spontan aku pun mencalonkan diri sendiri meski tahu tentu mengecat rumah saat berpuasa akan double capeknya. Tapi tak apa.

Awalnya saya pikir pekerjaan ini pekerjaan cuma-cuma, tapi tetap saya kerjakan dengan baik. Saat tengah istirahat di hari kedua saya mengecat, kebetulan saat itu hari Minggu, istri pak bos menghampiriku dan dengan sopan menawariku pakaian yang baru saja ia bereskan dari lemarinya. Aku tentu saja mau karena pasti orang baik sepertinya tak akan memberi pakaian tak layak pakai. Jadilah saat pulang aku membawa dua bungkusan besar pakaian layak pakai dari ibu bos dan uang hasil kerja kerasku mengecat rumah.

Aku sangat bersyukur karena mendapat rezeki tak terduga untuk keluarga di rumah. Pakaian yang diberikan oleh istri pak bos juga masih cantik-cantik, cocok untuk istriku. Uang hasil ngecat rumah pun aku berikan padanya untuk dibelikan baju baru untuk anak-anak. Sungguh rasa lelah setelah bekerja seharian pun hilang saat si kakak bersorak gembira dengan mata berbinar karena tahu bahwa ia akan segera dibelikan baju baru untuk Lebaran nanti. Kebersamaan keluarga tetap terasa meski hidup sederhana. Aku pun sangat bersyukur memiliki keluarga harmonis ini meski keadaan tak selalu baik.

Apakah Anda juga tengah berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga? Apapun pekerjaan Anda, tetap semangat dan janganlah berputus asa. Rezeki sudah diatur Yang Maha Kuasa, rahasia Tuhan siapa yang tahu. Pengalamanku sudah membuktikan bahwa rezeki untuk keluarga tidak akan kemana selama Anda mengusahakannya.