Tahun Baru di Negeri Tirai Bambu

6 Jan 2016

Tahun Baru di Negeri Tirai Bambu

“Ibu, nanti tanggal 29 jadi pulang, kan?” Terdengar suara anakku, Kiara, melalui ponselku. “Iya dong, Kiara nanti mau minta Ibu bawakan apa?” Tanyaku pada anak bungsuku itu. “Bawain mainan Frozen ya, Bu?” pinta Kiara. Aku langsung mengiyakan permintaan Kiara.

Malam ini masih tanggal 26 Desember, tapi aku tak sabar menunggu kepulanganku ke tanah air pada tanggal 29 Desember mendatang. Oh ya, aku adalah seorang TKI yang bekerja di salah satu pabrik tekstil di Taipei, Taiwan, Tiongkok. Sudah tiga tahun aku bekerja di Negeri Tirai Bambu ini. Aku terpaksa karena suamiku hanya seorang supir bus. Pendapatan suamiku tidak cukup untuk membiayai sekolah kedua putriku, Erlina dan Kiara. Setiap Natal dan tahun baru aku pulang ke Indonesia. Maklum, di Tiongkok para TKI hanya mendapat libur agak panjang pada akhir Desember.

Usai menutup telepon, aku hendak memeriksa kembali paspor dan tiket pesawat untuk kepulanganku. Aku sudah membeli tiket sejak satu bulan yang lalu agar tidak kehabisan. Seharusnya tiket dan paspor ini ada di dalam tasku. Namun, setelah kukeluarkan semua isinya, aku tetap tidak menemukan paspor dan tiketku. Celakalah aku! Di mana paspor dan tiket itu? Aku yakin sudah meletakkannya di tas. Atau... Ah! Mungkin pasporku terjatuh di dekat pujasera tempat aku membeli makanan tadi.

Aku bergegas menuju ke pujasera yang tak jauh dari tempat tinggalku. Kutanya semua orang di sana, tetapi tidak ada yang melihat pasporku. Aku bingung setengah mati. Aku melapor ke polisi setempat, tapi mereka hanya berkata bahwa akan menghubungiku jika sudah menemukan pasporku.

 

Aku tak tahu harus bagaimana. Akhirnya, aku menghubungi Mr. Wang, atasanku di pabrik yang cukup mahir berbahasa Indonesia. “Tenang dulu, Tuti. Saya akan bantu kamu mengurus paspor yang hilang itu, tapi itu butuh waktu lama,” kata Mr. Wang saat aku menceritakan musibah yang baru saja kualami. Mr. Wang tidak bisa memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengurus paspor. Satu hal yang pasti aku tidak dapat pulang untuk merayakan tahun baru.

Singkat cerita, hari ini adalah tanggal 1 Januari. Semestinya hari ini aku sedang berkumpul dengan suami dan anak-anakku di Cirebon. Aku masih ingat suara tangisan Kiara serta nada kecewa dari suara Erlina ketika mengetahui aku tidak bisa pulang karena pasporku hilang.

Ketika aku sedang termenung, kudengar suara yang sangat kukenal, “Ibu! Ibu! Buka pintunya dong!” Ah, jangan-jangan... Aku segera bangkit untuk membuka pintu. Seharusnya aku kecewa ketika aku hanya melihat Mr. Wang dan Asti, teman sesama TKI, berdiri di depan pintu. Namun, aku tak jadi kecewa ketika melihat tablet yang dibawa Mr. Wang. Tablet itu sedang tersambung dengan video call yang menampilkan sosok anak-anakku dan suamiku. Rupanya Mr. Wang dan Asti berinisiatif untuk menghubungi keluargaku melalui video call.

Oh, betapa rindunya aku kepada mereka. Aku sampai tak bisa membendung air mataku. “Bu, jangan nangis. Tahun baru tidak boleh nangis,” kata Erlina di video itu. “Selamat tahun baru ibuku sayang,” lanjutnya. Kulihat suamiku memangku Kiara. Mereka bergantian mengucapkan selama tahun baru di video call.

Aku mengobrol dengan keluarga kecilku sampai setengah jam. Sampai-sampai aku tak menyadari ada Mr. Wang dan Asti di sini. “Terima kasih, Mister Wang. Saya tak tahu harus berkata apa,” ucapku tulus. Mr. Wang yang bijaksana itu menjawab, “Tak perlu berterima kasih, Tuti. Ini tidak seberapa. Semestinya kau bisa berkumpul di rumah dengan keluargamu saat ini.” Mr. Wang memberikan sebuah paspor, “Ini paspormu sudah ditemukan, tapi tentu saja tiketnya sudah expired. Terimalah ini, kuberi kau tambahan libur satu minggu untuk bertemu keluargamu. Anggap saja ini hadiah karena kau adalah pekerja yang baik.”

Mr. Wang memberikan tiket untuk pulang ke Indonesia dua hari lagi. Oh, betapa gembiranya aku bisa berkumpul dengan keluarga bahagia yang menungguku di kampung halaman. Ternyata masih saja ada orang yang sebaik Mr. Wang.

Mungkin ini yang dinamakan sebagai berkah tahun baru. Apa harapanmu di tahun baru ini? Apakah kau punya harapan untuk bisa berkumpul dengan keluarga sama sepertiku? Berkumpulah dengan keluargamu jika kau bisa, karena kita tak pernah tahu apakah tahun depan kita masih bisa berkumpul dengan keluarga lengkap kita.