Tukang Ojek yang Mengukir Cerita Cinta Sejati

3 Dec 2015

Cerita Cinta Sejati Tukang Ojek Dengan Istrinya

Ada yang bilang bahwa cerita cinta sejati hanyalah omong kosong, tapi bagiku tidak. Aku memiliki cinta sejati yang akan terus mencintaiku sampai mati.

Siapa yang tak bangga dengan suamiku? Percaya tidak percaya, ia telah memperoleh gelar magister teknik mesin. Kini, ia menjadi seorang dosen di sebuah perguruan tinggi ternama di Jakarta. Aku pun tahu ia sedang mengumpulkan uang untuk biaya kuliah S3-nya. Ia sangat ingin meraih gelar doktor.

Meskipun sudah 20 tahun menikah, kami belum dikaruniai buah hati. Itu tak jadi masalah, toh kami tetap bahagia hidup berdua seperti ini. Sebagai istri, aku selalu mendukung karir dan impian suamiku. Aku berusaha mencari tambahan penghasilan dengan berjualan nasi uduk di pagi hari. Sebisa mungkin aku tidak ingin merepotkan suamiku yang sedang giat menabung untuk biaya S3-nya.

Sudah beberapa bulan terakhir aku merasakan sakit kepala yang kian hari bertambah parah. Minggu lalu aku melakukan check-up di rumah sakit terdekat. Biaya yang dibutuhkan untuk check-up tidaklah sedikit. Aku menggunakan tabunganku untuk membayar biayanya. Selain tidak ingin mengganggu usaha suamiku yang sedang menabung, aku juga tak ingin membuatnya khawatir.

“Siang, Bu Dina. Hasil check-upnya sudah keluar, tapi saya mau menanyakan beberapa pertanyaan,” kata dr. Sarah ketika aku memasuki ruangannya. “Silakan, dok,” jawabku. “Apakah ibu sering mengalami sakit kepala disertai dengan mimisan? Atau ibu akhir-akhir ini mengalami kelelahan yang begitu hebat?”, tanya dr. Sarah. “Ya, betul, dok. Saya selalu sakit kepala dan kadang disertai mimisan. Hampir setiap hari saya merasa kelelahan,” jawabku. Kulihat dr. Sarah membaca ulang hasil check-up di tangannya dan menghela nafas, “Bu Dina, mohon maaf sekali dengan sangat menyesal saya sampaikan bahwa Ibu divonis kanker otak stadium tiga.”

Kata-kata dr. Sarah seperti petir yang menyambarku. Aku terpaku dan dalam sekejap kehilangan kesadaran.

Ketika terbangun, aku sudah berada di ruangan serba putih dengan aroma obat yang khas. Kulihat suamiku sedang menatapku. Ketika mata kami bertemu, ia berkata, “Dina, kamu harus sembuh. Jangan tinggalkan aku.”

Hari-hari berikutnya, suamiku makin sering menemaniku di rumah sakit. Aku mulai curiga karena aku tahu betul jadwal mengajarnya. Ia kerap kali berada di sisiku ketika jam mengajarnya tiba. Setiap aku tanyakan tentang itu, ia selalu berusaha menghindar dan tidak menjawab.

Pagi ini, Suster Maria datang untuk mengganti insfuku. Ia menyapaku dengan ramah dan mengatakan suatu hal yang membuatku tercengang, “Bu Dina harus semangat untuk sembuh, ya. Pak Sutanto itu cinta banget, lho, sama Bu Dina. Kemarin saya pulang ke asrama pakai jasa ojek suami Ibu. Tampaknya dia giat sekali cari uang untuk biaya pengobatan Ibu.”

Tukang ojek? Bukankah suamiku seorang dosen? Dia dosen di perguruan tinggi ternama, tapi....

Suamiku masuk ke kamarku, ia berusaha tersenyum meskipun wajahnya tampak letih. Ketika ia duduk, segera kutanya, “Tanto, apakah betul kamu menjadi tukang ojek?” Ia terlihat kaget saat mendengar pertanyaanku. Sempat terdiam lama, suamiku pun menjawab, “Iya, Din. Semoga kamu tidak malu dengan pekerjaanku yang baru ini.” Aku bersikukuh meminta penjelasannya, “Tapi mengapa? Bukankah pekerjaanmu sudah mapan?” Ia menggenggam tangaku dan menjawab, “Ya, menjadi dosen adalah kebanggaanku. Tapi kebanggaan terbesarku adalah bisa memiliki lebih banyak waktu untuk menyemangati istriku yang kini sedang terbaring sakit. Dengan pekerjaanku sebagai tukang ojek, aku memiliki waktu yang lebih banyak dan fleksibel untuk datang ke sini, sayang. Penghasilannya pun cukup lumayan, kok.”

Kenyataan yang kudengar dari suamiku menumbuhkan semangatku untuk sembuh. Baru kusadari bahwa Sutanto adalah cinta sejati untukku. Ya, tukang ojek itu mengorbankan segala impiannya untuk mengukir cerita cinta sejati untukku.

Pernahkah Anda mengalami hal yang serupa? Dimana seseorang rela mengorbankan impian, harta, dan status yang ia miliki hanya untuk bersamamu, orang yang dicintainya? Berbahagialah Anda yang berada di posisi seperti itu. Karena cerita cinta sejati merupakan hal yang paling terindah dalam hidup.