Cerita lintang nawangsari

1 / 1
secangkir asa untuk abang

secangkir asa untuk abang

Waktu berlalu begitu cepat, hingga hampir13 tahun kami melukis sebuah kanvas bernama keluarga. Allah amanahkan satu orang putra dan dua orang putri pada kami. Si sulung berumur 11 tahun sifatnya ceria, namun kurang tekun dalam belajar. Tak heran, semakin tinggi kelasnya, ia mulai kesulitan dalam belajar. Beberapa nilainya di bawah KKM. Sayapun menegurnya. Namun, abang sulit berubah. Suatu sore saya mendatanginya dengan teh susu di tangan. Matanya berbinar melihat teh susu tersaji tanpa diminta. "Bang, sebetulnya abang mau belajar nggak sih?." Abang menarik nafas. Matanya berkabut. "Mau lah, habis bunda ngurusin dedek terus. Bunda harusnya punya waktu khusus sama aku." Hatikupun bergetar har